Memaknai Kemerdekaan dan Kebebasan dari Lomba Anak-anak RT 11

18 Agustus 2026
WAHYU DIMAS NURHERMAWAN, S.PD.
Dibaca 16 Kali
Memaknai Kemerdekaan dan Kebebasan dari Lomba Anak-anak RT 11

Dok. permainan tradisional bakiak oleh anak-anak usia dini di RT 11, Padukuhan Karangtengah Lor, Margosari.

Margosari, Kulon Progo – Pada Hari Minggu pagi, 9 Agustus 2026 di Lapangan depan Posko Jaga Warga RT 11, pemuda di Padukuhan Karangtengah Lor RT 11 melaksanakan kegiatan lomba anak-anak dalam rangka memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia ke-81. Pelaksanaan digelar secara sederhana melibatkan anak-anak usia taman kanak-kanak hingga sekolah dasar di lingkungan RT11, 12 dan sekitarnya sebagai peserta perlombaan. Lomba diipertandingkan secara individu maupun kelompok.

Lomba anak-anak 17-an bukan sekadar ajang mencari menang atau hadiah. Di balik gelak tawa dan serunya lomba, tersimpan nilai perjuangan, kerja sama, sportivitas, dan kebersamaan yang menjadi cerminan cara sederhana anak-anak memaknai kemerdekaan bangsa. Apa saja nilai yang bisa didapat anak? Berikut rangkumannya.

Nilai Perjuangan dan Pantang Menyerah

  • Berusaha sampai garis finis: Jatuh saat bermain bakiak lalu bangun lagi mengajarkan arti tidak mudah menyerah.
  • Menghargai proses: Anak belajar bahwa hasil yang baik didapat lewat usaha keras, sama seperti pahlawan merebut kemerdekaan

Kerja Sama dan Rasa Keadilan

  • Kekompakan tim: Lomba bakiak melatih anak menyatukan langkah dan saling percaya.
  • Sportivitas: Belajar menerima kekalahan dengan lapang dada dan menang tanpa sombong menumbuhkan jiwa besar

Kegembiraan dan Hak Anak

  • Merdeka itu bermain: Tawa lepas anak-anak menunjukkan bahwa kemerdekaan memberi mereka ruang aman dan bahagia untuk berekspresi.
  • Kebersamaan sosial: Anak berinteraksi tanpa membeda-bedakan teman, merajut persatuan sejak dini

Menghindari Gawai, Melestarikan Permainan Tradisional

Berbagai lomba yang diadakan bertemakan 17 agustusan ini juga menjadi momen dimana anak-anak memainkan perlombaan tradisional. Hadirnya gadget mengubah kebiasaan anak yang seharusnya bermain dengan teman sebayanya memilih untuk bermain game di gawainya. Anak-anak kembali mengenal dan memainkan berbagai lomba tradisional yang mulai ditinggalkan seperi bakiak, egrang, makan kerupuk, balap karung dan yang lainnya.

Jatuh saat bermain bakiak lalu bangun lagi mengajarkan arti tidak mudah menyerah

Perlombaan anak menambah wawasan permainan bagi anak-anak, bahkan pada kesempatan tersebut mereka diberikan wadah untuk memainkannya. Anak-anak secara tidak langsung dipaksa meninggalkan permainan di gawai mereka sejenak untuk memainkan hal yang mungkin baru bagi mereka. Berbagai ekspresi kegembiraan yang terpancar dari mereka menggambarkan bahwa sejatinya permainan tradisional masih bisa diterima dikalangan generasi z maupun generasi alpha.